Biaya Transportasi Naik, Harga Kayu Bakar di Pasar Lolowa Tetap Rp2.000 per Ikat

www.peristiwaaktual.com.ǁNTT,23 Juni  2026-Kenaikan biaya transportasi akibat sulitnya mendapatkan BBM subsidi jenis pertalite serta kelangkaan minyak tanah tidak berdampak pada harga kayu bakar di Pasar Lolowa, Kelurahan Lidak, Kecamatan Atambua Selatan, Kabupaten Belu, Selasa (23/6/2026).

Meski biaya operasional meningkat, para penjual tetap mempertahankan harga kayu bakar sebesar Rp2.000 per ikat.

satu ikat kayu bakar dijual Rp2.000 dengan isi sekitar 5 hingga 6 batang kayu berukuran panjang kurang lebih 50 sentimeter.

Selain itu, tersedia juga ikatan besar dengan harga Rp. 10.000 perikat (5 ikat, Red) hingga Rp20.000 per ikat (10 ikat, Red).

Kondisi ini terjadi di tengah meningkatnya kesulitan memperoleh BBM, baik pertalite maupun minyak tanah, yang juga mendorong masyarakat tetap bergantung pada kayu bakar sebagai alternatif kebutuhan rumah tangga

Salah satu penjual, Antoneta Nenosono, mengaku kenaikan harga BBM sangat berpengaruh pada biaya transportasi pengangkutan kayu dari kampung ke pasar. Namun demikian, harga jual tetap dipertahankan demi menjaga pelanggan.

“Harga tetap Rp2.000 per ikat. Kami tidak berani naikkan karena takut pelanggan berkurang, padahal biaya transportasi sekarang naik karena BBM susah,” ujarnya.

Ia mengungkapkan kayu bakar yang dijualnya dibeli dari Wedomu, Kecamatan Tasifeto Timur dan Aitaman, Kecamatan Raihat dengan biaya transportasi Rp 200.000 per pikap.

“Sebelumnya biaya transportasi hanya Rp150.000 sekarang sudah naik menjadi Rp 200.000 karena susah dapat BBM. Kita dapat keuntungan sedikit saja,” tuturnya.

Ia menambahkan, meskipun minyak tanah mengalami kelangkaan dan harganya melonjak di tingkat pengecer, permintaan terhadap kayu bakar justru tetap stabil karena sudah memiliki pelanggan tetap.

“Permintaan masih sama, karena orang sudah biasa pakai kayu bakar apalagi minyak tanah juga susah didapat,” katanya.

Menurutnya, kondisi ini membuat para penjual berada dalam posisi sulit karena harus menanggung kenaikan biaya tanpa diimbangi kenaikan harga jual.

Ia berharap pemerintah dapat menstabilkan pasokan dan harga BBM agar biaya transportasi tidak semakin membebani pelaku usaha kecil di pasar tradisional.