Festival Pertanian Fafoe 2025 Digelar di Malaka, Ajang Apresiasi dan Inovasi Petani Jagung Lokal

www.peristiwaaktual.com.ǁNTT,30 Desember 2025-Masyarakat petani di Desa Fafoe, Kecamatan Malaka Barat, Kabupaten Malaka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), menggelar Festival Pertanian Fafoe Tahun 2025 sebagai bentuk perayaan hasil panen sekaligus upaya memotivasi petani untuk terus berinovasi dalam sektor pertanian.

Kegiatan itu berlangsung di Kantor Desa Fafoe pada Selasa, (30/12/2025) dan mendapat sambutan antusias dari masyarakat setempat.

Festival pertanian tersebut dikhususkan pada lomba hasil panen jagung antarpetani dalam musim tanam batar ahuk kle’an, yakni metode tanam tradisional dengan teknik tugal atau galian tanah yang lebih dalam dari biasanya. Jagung yang dilombakan merupakan hasil panen musim tanam ketiga yang dikerjakan secara tradisional oleh para petani Desa Fafoe.

Kegiatan itu juga merupakan inisiatif murni para petani setempat yang kemudian dikoordinir oleh panitia pelaksana festival. Hadir dalam kegiatan tersebut perwakilan Pemerintah Desa Fafoe serta masyarakat yang turut menyaksikan jalannya perlombaan.

di lokasi kegiatan menunjukkan suasana festival yang meriah namun tetap sederhana. Para petani peserta lomba tampak berdatangan sambil membawa jagung pilihan mereka masing-masing. Setiap peserta membawa sekitar lima hingga enam puler jagung yang telah dikupas kulitnya untuk dinilai dan ditimbang oleh panitia.

Proses perlombaan dilakukan secara terbuka dan transparan. Setiap peserta dipanggil maju satu per satu untuk menyerahkan jagung mereka kepada panitia. Dari jagung yang dibawa, lima puler dipilih untuk kemudian ditimbang menggunakan timbangan guna menentukan bobot berat jagung. Bobot inilah yang menjadi tolok ukur utama dalam penilaian lomba.

Koordinator Festival Pertanian Fafoe 2025, Yonimus Koa, dalam sambutannya menjelaskan bahwa kegiatan itu memang dikhususkan bagi para petani jagung di Desa Fafoe.

Menurutnya, jagung yang dipanen dan dilombakan merupakan hasil dari musim tanam ketiga yang dilakukan dengan teknik tradisional khas masyarakat setempat.

“Di Fafoe, meskipun pada musim panas permukaan tanah terlihat kering, namun bagian bawah tanah tetap lembab. Hal ini karena Desa Fafoe merupakan dataran rendah yang menjadi tempat penampungan air. Oleh karena itu, kami menggunakan teknik galian lebih dalam agar tanaman tetap mendapatkan cukup kelembaban,” jelas Yonimus.

Ia menambahkan, musim tanam ketiga biasanya dilakukan pada bulan Agustus hingga September, sehingga masa panen berlangsung pada bulan November hingga Desember.

Festival pertanian itu, lanjutnya, baru pertama kali dilaksanakan pada tahun 2025, namun pihak panitia berkomitmen untuk menjadikannya sebagai agenda tahunan.

“Festival ini merupakan inisiatif kami sendiri sebagai masyarakat petani. Harapannya, ke depan kegiatan ini bisa terus berlanjut setiap tahun,” ungkapnya yang sontak disambut dengan sorakan tepuk tangan oleh semua masyarakat yang hadir.

Dalam perlombaan tersebut, panitia menetapkan bobot berat jagung sebagai satu-satunya indikator penilaian. Petani dengan lima puler jagung terberat dinobatkan sebagai pemenang. Panitia juga menyiapkan hadiah uang tunai sebagai bentuk apresiasi, yakni juara pertama sebesar Rp 750.000, juara kedua Rp 500.000, dan juara ketiga Rp 250.000.

“Melalui apresiasi ini, kami berharap para petani semakin terdorong untuk berinovasi dalam pola tanam dan perawatan tanaman, sehingga hasil pertanian ke depan semakin maksimal,” tambah Yonimus.

Ia juga berharap, dengan adanya kegiatan itu mampu memperkuat ketahanan pangan lokal serta mendorong pertanian berkelanjutan di Kabupaten Malaka.

Sementara itu, mewakili Pemerintah Desa Fafoe, Kasi Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Finsensius Ari menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada panitia penyelenggara atas inisiatif luar biasa tersebut.

Ia menilai Festival Pertanian Fafoe merupakan terobosan positif dalam mendorong semangat petani.

“Kegiatan ini sangat memotivasi para petani untuk lebih serius dan bersemangat dalam bertani. Dengan adanya perlombaan, petani akan lebih memperhatikan pola tanam dan perawatan sehingga hasilnya lebih berkualitas,” ujarnya.

Menurut Finsensius, pada dasarnya masyarakat Desa Fafoe memang menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Namun, melalui festival itu, para petani didorong untuk meningkatkan kualitas hasil panen, bukan sekadar bertani untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Salah satu peserta lomba, Paulus Bria Nahak (36), saat diwawancarai mengaku sangat terbantu dan termotivasi dengan adanya Festival Pertanian Fafoe 2025.

Ia menuturkan bahwa jagung yang ditanamnya menggunakan bibit jagung hibrida yang dibeli dari pasar.

“Hasil panen jagung yang baru saya panen di akhir tahun 2025 ini hampir mencapai dua ton, ditanam di lahan seluas kurang lebih 70 are,” kata Paulus.

Ia juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada panitia penyelenggara yang telah menggagas kegiatan tersebut.

Menurutnya, festival itu memberikan semangat baru bagi para petani untuk terus meningkatkan hasil pertanian mereka.

“Melalui festival ini, kami merasa lebih dihargai sebagai petani dan semakin termotivasi untuk terus bekerja keras di bidang pertanian,” tutup Paulus.

Festival Pertanian Fafoe 2025 tidak hanya menjadi ajang perlombaan hasil panen, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran, motivasi, dan kebersamaan bagi masyarakat petani.