Penderita AIDS Tinggal di Hutan, Cerita ODHIV Melawan Stigma di Masyarakat

www.peristiwaaktual.com.ǁNTT,2 Desember 2025-“Selama 15 tahun, saya hidup sebagai pengidap HIV (ODHIV). Itu waktu yang sangat lama. Saya menderita, tetapi saya terus menjalani hidupnya.”

Ungkap Joma, bukan nama sebenarnya yang menceritakan pengalaman hidup dengan HIV kepada Pos Kupang, Senin (1/12). Penderitaan mulai dari melawan stigma hingga pentingnya keterbukaan.

Dia mengetahui mengidap HIV sejak tahun 2010. Sejak saat itu, kehidupannya berubah, terutama cara orang menilainya.

Pria 47 tahun ini mengalami stigma. Namun tidak begitu berat dibandingkan kisah dari teman-temannya yang diusir, dijauhkan, hingga harus tidur di hutan karena diasingkan.

“Waktu itu saya pergi ke Sumba Barat ada pertemuan, dan di sana ada seorang perempuan bercerita kepada saya ketika dia sakit dia diusir dari rumah, dan tidur di hutan dua malam,” ungkapnya.

Jika ini dibiarkan, kata dia, stigma bisa membuat kondisi pengidap jauh lebih buruk. Karena itu, ia memilih terbuka agar pola pikir masyarakat berubah, dan stigma dapat dihilangkan akibat minimnya pengetahuan.

“Saya harus ambil sikap untuk membuka diri di hadapan masyarakat supaya kita bisa melawan itu semua,” katanya. Keterbukaan ini diambil untuk menyamakan persepsi bahwa penyakit ini sama seperti penyakit lainnya.

Ia juga mengisahkan pertemuannya dengan seorang ibu di Sumba Timur yang telah meninggal karena HIV. Ibu tersebut mengaku ditinggalkan suaminya. Bahkan dijauhkan oleh keluarganya sendiri.

“Ketika dia sakit, suaminya pergi tinggalkan dia ke Kupang. Keluarga pun tidak mengurus dia. Posisinya dia sudah sangat buruk sekali. Dia jalan sempoyongan,” ceritanya.

“Makanya saya mengambil sikap, saya harus berani untuk terbuka dan membuka pola pikirnya masyarakat akibat dari minimnya pengetahuan bagaimana kita bisa hilangkan stigma itu sendiri,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, stigma yang membuat pengidap lainnya masih belum berani membuka diri. Mereka takut dijauhkan dan ditolak keluarga.

Ia pun berpesan agar setiap orang menjauhkan diri dari perilaku berisiko. Menurutnya, HIV adalah penyakit perilaku.

“Mungkin satu hal yang perlu saya sampaikan yaitu jaga sikap, jaga perilaku. Karena memang virus ini adalah virus perilaku. Di dunia ini tidak ada yang sempurna… Kita saling memaafkan,” katanya lagi setelah hening sejenak.

Kepala Dinas Kesehatan Sumba Timur, Rambu M. R. K. U. Djima, melalui Penanggung Jawab Program HIV, Lukas Lu Walangara kepada Pos Kupang, Senin (1/12) menjelaskan, Dinas Kesehatan Sumba Timur mencatat sebanyak 314 kasus HIV/AIDS sejak tahun 2014 hingga Oktober 2025.

Lukas menjelaskan, sekitar 80 persen dari orang dengan HIV/AIDS tersebut saat ini rutin menjalani pengobatan. “Sedangkan 20 persennya itu ya mereka yang masih putus-putus minum obat atau belum rutin,” ungkapnya.

Ia menyebutkan, kelompok usia produktif paling banyak terkena HIV. Mereka umumnya di rentang usia 30 hingga 45 tahun. “Sudah di angka sekitar 60-an persen (produktif) secara keseluruhan kalau gabung begitu. Itu kondisinya sekarang,” katanya.

Untuk layanan pemeriksaan HIV, kata dia, seluruh puskesmas di Sumba Timur sudah bisa melakukan tes HIV. Sementara layanan pengobatan saat ini hanya tersedia di RSUD Umbu Rara Meha, RSK Lindimara dan Puskesmas Lewa. “Ke depan ada beberapa puskesmas yang akan kita tambahkan untuk bisa layani pengobatan,” ujarnya.

Lukas menjelaskan, tantangan pengobatan orang dengan HIV/AIDS di Sumba Timur, di antaranya adalah stigma dan diskriminasi. Ia menilai stigma menyebabkan banyak orang takut memeriksakan diri meski merasa berisiko.

“Kami melihat tantangan paling berat sekarang di Sumba Timur itu adalah stigma dan diskriminasi. Begitu orang mau melakukan pemeriksaan atau merasa berisiko, dia tidak punya keberanian untuk datang periksa. Ya, karena malu. Nanti mungkin dia kembali ke keluarga masih berpikir diterima atau tidak. Kemudian dia tahu bahwa orang selalu menganggap HIV itu adalah penyakit (aib),” ungkapnya.

Jika stigma dapat dihapus, lanjut dia, penanganan HIV dapat berjalan lebih mudah. “Orang akan lebih bebas untuk melakukan pemeriksaan dengan minum obat teratur seperti penyakit-penyakit yang lain,” ujarnya.

Temuan Kasus Baru

Komisi Penanggulangan Aids Daerah (KPAD) NTT menyampaikan data kasus HIV/AIDS (Odhiv) di NTT sejak pertama kali ditemukan tahun 1997 hingga Agustus 2025.

Ketua KPAD NTT Adrianus Lamury, Senin (1/12) menyebut data itu merupakan akumulasi saat kasus pertama hingga kini. KPAD sendiri terus berupaya dan menggandeng berbagai pihak untuk melakukan edukasi dan pendampingan pada orang yang terpapar HIV Aids.

Hingga Agustus 2025, KPA NTT menyebut ada 9.212 orang dengan HIV Aids (Odhiv). Sementara odhiv yang meninggal dunia sejak tahun 1997 hingga Agustus 2025 tercatat 1.400 orang. Sedangkan Odhiv yang lari dari pengobatan sebanyak 1.897 orang.

“Itu dari awal temuan kasus pertama sampai saat ini. Orang dengan HIV tidak akan hilang dari tubuh. Dia akan seumur hidup. Sehingga dia tercatat sebagai orang dengan HIV,” kata Adrianus Lamury.

Untuk itu, KPAD NTT bekerjasama dengan sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM), Pemerintah Desa hingga sekolah untuk menangani kasus HIV Aids. KPAD NTT melakukan fungsi koordinasi dan komunikasi dengan sejumlah pihak terkait. Sisi lain, pihaknya juga memberdayakan populasi kunci atau pihak yang ikut membantu penanganan orang dengan HIV (Odhiv).

“Masyarakat turut terlibat dalam penanganan HIV Adis. Juga melakukan KIE ke elemen masyarakat,” kata Lamury.

Dia menjelaskan, hasil koordinasi telah dihasilkan 8 Peraturan Daerah maupun Peraturan Kepala Daerah. Itu ditambah dukungan anggaran dengan nilai setiap bervariasi.

Di NTT sendiri, kata dia, tahun 2025, KPAD NTT mendapat dukungan anggaran sebesar Rp 100 juta. Jumlah ini sama dengan tahun 2024. Tahun 2023, anggaran diberikan Rp 200 juta. Sementara tahun 2022 KPAD mendapat dukungan anggaran Rp 500 juta.

Anggaran ini, menurut dia, dioptimalkan untuk operasional bagi seluruh staf KPAD NTT. Termasuk melaksanakan berbagai kegiatan. Dia memahami keterbatasan anggaran yang dialami Pemerintah.

“Dua tahun terakhir masing-masing dapat Rp 100 juta. Dana operasional dan penggajian, 6 staf. Tiga tahun lalu Rp 200 juta. Empat tahun sebelumnya Rp 500 juta. Memang ada penurunan karena efisiensi dan prioritas kegiatan yang mungkin lebih penting dari HIV Aids,” ujarnya.

Adi mengatakan, selama ini KPAD NTT menggandeng sejumlah LSM agar membantu penanganan HIV Aids. Salah satunya, edukasi mengenai penggunaan kondom. Kerja lainnya yang dilakukan adalah pembentukan Desa/Kelurahan sadar HIV Aids.

Kerja itu dilakukan dari edukasi hingga pendampingan jika ada warga yang terkena HIV Aids. Namun begitu, KPAD NTT mengalami keterhambatan. Sebab, sebagian besar daerah di NTT belum memiliki LSM yang membantu.

“Hanya Sikka, Belu dan Kota Kupang yang mendukung kerja penanganan HIV Aids. Maka KPAD menjangkau daerah lain, populasi kunci untuk wajib tes, datang ke layanan untuk tes,” ujarnya.

Dengan tes itu, maka dilanjutkan dengan pengobatan. KPAD NTT harus mendampingi itu. Pada bagian ini, pihaknya membentuk kelompok dukungan sebaya (KDS). Sehingga KDS dan KPA melakukan pendampingan agar tidak berhenti mengonsumsi obat.

“Karena kalau mereka tidak minum obat, maka mereka bisa tularkan ke orang lain. Kerja KPA bahkan jauh lebih dari itu,” katanya.

Dikatakan, KPAD di tingkat Kabupaten/Kota yang tidak memiliki LSM pendamping, diberi pelatihan oleh KPAD Provinsi. Pelatihan itu menyasar semua staf KPA di daerah agar memiliki kemampuan edukasi dan pendampingan pada Odhiv.

Adi menjelaskan, KPA juga telah melatih 35 sekolah di NTT agar peduli pada Aids. Kerja sama juga, menggandeng lembaga bantuan hukum untuk membantu pengendalian HIV Aids, sekaligus melakukan pendampingan pada ancaman kekerasan seksual bagi pekerja seks.

“Terakhir kita kerja sama dengan pihak Timor Leste untuk memperkuat area perbatasan,” katanya.

Tindak lanjut dari itu, menurut dia, KPA lewat dukungan dana dari perbankan, melatih Desa perbatasan agar memiliki warga peduli Aids. Bahkan, ada beberapa desa yang telah mendapat dukungan dana dari desa untuk menyelenggarakan kegiatan secara mandiri.

173 Kasus Baru 

Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kota Kupang mencatat penambahan signifikan kasus HIV/AIDS baru sepanjang tahun 2025. Hingga bulan September 2025, tercatat 173 kasus baru, menambah panjang daftar kasus kumulatif HIV/ADIS yang telah mencapai ribuan.

“Kami berharap semoga jangan ada lagi tambahan-tambahan kasus HIV/AIDS baru,” ujar  Sekretaris KPAD Kota Kupang, Julius Tanggu Bore, Senin (1/12).

Julius, yang akrab disapa Jems menjelaskan bahwa, 173 kasus ini adalah temuan baru hingga September 2025 dan semuanya masih aktif dalam proses pengobatan.

Data ini, kata Jems menambah total akumulasi kasus HIV/AIDS di Kota Kupang sejak tahun 2000 hingga 2025 yang telah mencapai angka 2.443 kasus. Kendati data menunjukkan lonjakan, Jems menyoroti faktor utama yang menyebabkan penyebaran virus ini sulit dikendalikan, yaitu perilaku masyarakat.

“Perilaku atau orang-orang di Kota Kupang yang belum sadar akan seks yang berisiko atau pengetahuan akan seks yang aman, maka virus ini belum dapat dikendalikan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Jems menekankan pentingnya kepatuhan Orang Dengan HIV (ODIV) dalam mengonsumsi obat Antiretroviral (ARV) secara rutin. Selama ODIV minum obat dengan disiplin, penularan virus secara otomatis dapat dicegah.

Sebaliknya, apabila tidak rutin mengonsumsi obat, hal tersebut tidak hanya membahayakan dirinya sendiri, tetapi juga berpotensi menularkan virus kepada orang lain.

“Setahu saya sampai hari ini teman-teman odhiv mereka masih rutin minum obat dengan baik,” ungkap Jems.

Dalam upaya menekan angka kasus baru, kata Jems KPAD Kota Kupang masih menggunakan pola pencegahan yang sama, yaitu melalui edukasi, sosialisasi, dan pembagian kondom. Namun, KPAD kini memperluas jangkauan pencegahan dengan menggandeng berbagai pihak.

“Kami juga mulai bangun kerjasama dengan gereja-gereja, sekolah maupun stakeholder lainnya untuk dapat mengendalikan kasus baru HIV/AIDS ini,” tutup Jems. (dim/fan/rey)

Ibu Rumah Tangga Dominasi HIV/AIDS

Sebanyak 535 warga di Manggarai Raya yakni Manggarai, Manggarai Barat, dan Manggarai Timur terpapar HIV/AIDS dari tahun 2013 sampai Agustus 2025.

Sekertaris Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kabupaten Manggarai, Kosmas Takung, Senin (1/12) menjelaskan, total temuan kasus baru 535 kasus dengan rincian, Kabupaten Manggarai 340 kasus, Manggarai Barat 84, Manggarai Timur 87 kasus dan rujuk masuk sebanyak 17 kasus.

Kosmas menerangkan, kasus tersebut dengan korban perempuan sebanyak 45,3 persen dan laki-laki 54,7 persen dengan usia 25-49 tahun yang mendominasi penderita HIV/AIDS tersebut.

Kosmas juga menerangkan, dari jumlah kasus tersebut, ibu rumah tangga (IRT) menjadi penderita terbanyak dengan total 32,56 persen. Disusul eks perantauan 11.53 persen, wiraswasta 8,93 persen, pekerja swasta 8,36 persen, petani 8,07 persen, PNS 5,48 persen, honorer 5,19 persen, mahasiswa 5,19 persen, belum bekerja 4,32 persen, guru swasta 2,59 persen, swasta salon 2,31 persen, wanita pekerja seks 1,73 persen, sopir 1,73 persen, pelajar 1,15 persen, dan ojek 0,86 persen.

Kosmas juga menerangkan,status pengobatan kasus baru 2013 sampai September 2025 dengan rincian on art 57.4 persen, lost follow up 29.3 persen, dan meninggal dunia 13.4 persen.

Namun Kosmas tidak mengetahui jumlah pasien yang sudah tidak mau mengkonsumsi obat yang wajib diminum.

“Kami mengimbau penderita HIV/AIDS untuk rutin mengkonsumsi obat yang dianjurkan dokter dan obat yang diberikan pun tanpa biaya alias gratis. Selain itu, bagi warga masyarakat agar segera melakukan pemeriksaan secara rutin agar bisa dicegah,” ujarnya.

Sosialiasi HIV/AIDS di Area CFD

Dinas Kesehatan Provinsi NTT bersama berbagai pihak dan instansi melaksanakan sosialisasi HIV/AIDS di area Car Free Day pada Sabtu (29/11). Kegiatan digelar dan menjadi rangkaian dalam rangka Hari AIDS Sedunia yang jatuh pada tanggal 1 Desember 2025.

Kegiatan ini melibatkan berbagai pihak yakni Komisi Penanggulangan Aids Daerah (KPAD) baik Kota Kupang maupun Provinsi NTT, Dinas Kesehatan Kota Kupang, Unicef, The Global Fund, IMoF NTT, Saksi Minor, PKBI NTT, LBH APIK NTT, OPSI NTT, Inset dan berbagai pihak lainnya.

Selain melakukan sosialisasi HIV/AIDS, adanya pemeriksaan kesehatan gratis dengan melibatkan tenaga kesehatan dari Puskesmas Oebobo.

Sosialisasi terkait HIV/AIDS juga dilakukan dengan berbagai poster-poster yang dibawa dan juga diangkat untuk menarik perhatian pengunjung di area CFD.

Tulisan berupa ajakan untuk tes HIV hingga memberikan pemahaman kepada masyarakat Kota Kupang yang ada di area CFD bahwa tindakan berpelukan tidak akan menularkan HIV.

Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Heny Rohi saat ditemui Pos Kupang menjelaskan tema yang diusung pada hari AIDS sedunia ini yakni “Bersama Hadapi Perubahan, Jaga Keberlanjutan Layanan HIV.

Heny juga mengatakan bahwa kegiatan ini diselenggarakan atas kerja sama dengan berbagai pihak dan mitra dan ia menyampaikan atas kerja sama dari semua pihak dalam mendukung dan melancarkan kegiatan ini.

Sementara Pengelola Program HIV/AIDS, Evy Linda Tata menjelaskan, HIV untuk tahun 2025 cenderung meningkat. Untuk itu diimbau  kepada masyarakat untuk jangan khawatir. Sebab, layanan test HIV sudah tersedia secara gratis baik layanan kesehatan milik pemerintah maupun swasta.

“Untuk pencegahan HIV, menjadi peran dan tanggung kita bersama baik di sektor pendidikan, agama maupun yang lainnya,” ungkap Heny.

Sementara Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Kabupaten Manggarai, Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kabupaten Manggarai, JPIC SVD Ruteng, Koperasi Spirit Soverdia, Koperasi Florete, dan sejumlah LSM melakukan sosialisasi terkait bahaya HIV/AIDS bagi remaja di Ruteng, Kabupaten Manggarai, Senin (1/12).

Mereka membagi tim untuk melakukan sosialisasi terkait penanggulangan HIV/AIDS di SMK Sadar Wisata, SMK St Petrus, dan SMK Bina Kusuma Ruteng. Usai sosialisasi, dibagikan brosur terkait bahaya dan pencegahan penyakit HIV/AIDS bagi remaja dan warga masyarakat di Kota Ruteng yang bertempat di Natas Labar Motang Rua, Kota Ruteng.

Sekertaris KPAD Kabupaten Manggarai Kosmas Takung, menerangkan sosialisasi bagi remaja di tiga sekolah di Ruteng tentang penanggulangan penyakit HIV/AIDS. Tujuannya, agar para remaja memahami tetang bahaya penyakit yang mematikan tersebut.

Ia mengimbau kepada masyarakat khususnya kaum muda untuk menjaga diri dari pergaulan bebas. Juga meminta masyarakat yang merasakan gejala penyakit HIV/AIDS untuk segera memeriksakan diri di rumah sakit atau fasilitas kesehatan terdekat agar bisa segera ditangani.

Pemerintah dan orang tua juga wajib mengawasi terkait kasus tersebut.
Kepala SMK Sadar Wisata Ruteng, Wihelmus Bastian, menyampaikan terima kasih kepada Pemda Manggarai yang sudah melakukan sosialisasi terkait HIV/AIDS bagi peserta didik di sekolah.

Ia berharap agar dengan adanya ilmu yang diberikan itu, peserta didiknya bisa memahami dan menjaga diri sehingga tidak terkena penyakit tersebut.

Selain itu, peserta didik kurang lebih 100 orang yang mengikuti kegiatan sosialisasi itu juga diharapkan bisa mensosialisasikan ke teman-teman lain atau pun kepada masyarakat terkait bahaya HIV/AIDS.

Bastian juga mengatakan program sosialisasi terkait HIV/AIDS ini akan menjadi agenda rutin di sekolah. Di mana sejauh ini sudah dilakukan pada saat MPLS dan mulai tahun 2026 juga akan dilaksanakan saat kegiatan praktek kerja Industri.