Polri Bangun 12 SPPG di NTT, Khusus untuk Wilayah 3T

www.peristiwaaktual.com.ǁNTT,1 Desember 2025-Wakil Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Wakapolri) Komjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo menegaskan, sebagai tindak lanjut dari arahan Presiden RI Prabowo Subianto, Polri mendapat mandat untuk membangun 98 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG)  tambahan di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T).

Langkah ini lanjut Dedi Prasetyo, dilakukan untuk pemerataan pemenuhan gizi serta mendukung pembangunan generasi unggul di seluruh Indonesia.

“Ada rencana sesuai permintaan Bapak Presiden. Bapak Kapolri memerintahkan untuk membangun SPPG di wilayah 3T, dan Polri mendapat mandat untuk membangun 98 SPPG,” jelas Dedi Prasetyo usai meninjau operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda NTT, Sabtu (29/11/2025).

Menurut Dedi Prasetyo, untuk Provinsi NTT, Polri akan membangun 16 SPPG di kawasan 3T serta 12 SPPG reguler. Total 28 SPPG baru akan direalisasikan dan mulai dikerjakan pekan depan melalui peletakan batu pertama. “Target di NTT minggu depan sudah peletakan batu pertama,” tambahnya.

Selain itu, Polri juga menyiapkan 264 fasilitas operasional lain yang akan diresmikan secara nasional untuk memperkuat pelayanan kepada masyarakat.

Melalui pembangunan SPPG di berbagai wilayah, Polri berkomitmen memastikan layanan gizi yang merata, sehat, dan berkelanjutan.

Wakapolri meninjau operasional SPPG di Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda NTT  yang berlokasi di Kelurahan Oebobo, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang.

SPPG ini telah beroperasi sekitar empat bulan dan dinilai mampu memenuhi kebutuhan gizi peserta didik secara baik dan konsisten.

“Saya melihat SPPG yang baru beroperasi sekitar empat bulan. Alhamdulillah, bagus dan menu-menunya cukup baik,” ujar Dedi Prasetyo.

SPPG dirancang tidak hanya berorientasi pada pemenuhan nutrisi, tetapi juga disesuaikan cita rasa lokal di masing-masing daerah. Hal ini diharapkan dapat membuat sajian gizi lebih dekat dengan budaya kuliner masyarakat setempat.

“Menu SPPG ini bisa disesuaikan dengan kekhasan daerah masing-masing. Ke depan akan dibuatkan Buku Menu Resep Nusantara SPPG Polri yang menghimpun ragam kuliner khas dari berbagai wilayah,” tegas Dedi Prasetyo.

Ditambahkan, kehadiran Buku Menu Resep Nusantara SPPG Polri juga akan menjadi ruang pelestarian kekayaan kuliner daerah dalam standar pelayanan gizi yang aman dan berkualitas.

Wakapolri juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam pengelolaan SPPG, mulai dari Kepala SPPG, staf, tenaga pengelola hingga relawan.

Dedi Prasetyo menilai seluruh tim telah bekerja disiplin, menerapkan SOP, menjaga keamanan pangan, dan mempertahankan ciri khas pelayanan gizi Polri.

“Kami berterima kasih kepada Ka SPPG, staf, dan para relawan yang telah bekerja dengan SOP yang kuat, menjaga keamanan pangan, tetap menghadirkan ciri khas Polri dalam pelayanan, serta melayani penerima manfaat dengan penuh dedikasi,” ungkap Dedi Prasetyo.

Investigasi Keracunan 

Pelaksana Harian (Plh) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten TTU, Basilius Haumein menjelaskan, pihaknya mengirim tim untuk melakukan investigasi di lapangan buntut 14 orang siswa sekolah dasar dari 3 sekolah di Kota Kefamenanu, Kabupaten TTU diduga mengalami keracunan usai mengonsumsi makanan yang disediakan SPPG dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Tim ini terdiri dari tenaga kesehatan dari Laboratorium Kesehatan, Dinas Kesehatan dan Puskesmas Sasi,” ujarnya, Jumat (28/11/2025).

Langkah yang ditempuh pertama usai insiden tersebut yakni melakukan penanganan terhadap pasien diduga keracunan tersebut. Mereka juga melakukan deteksi terhadap kasus susulan.

Selanjutnya langkah ketiga mereka melakukan pengambilan sampel makanan dan muntah dan selanjutnya dikirim ke laboratorium di Kupang untuk diperiksa.

Sampel tersebut telah dikirim ke Laboratorium Provinsi NTT di Kupang. Pengiriman sampel ini dilakukan pada Kamis, 27 November 2025. Pihaknya akan mengkonfirmasi ke Labkes untuk sesegera mungkin diperoleh hasil tersebut. Hasil dari laboratorium ini, menjadi rujukan bagi mereka untuk upaya tindak lanjut selanjutnya.

Basilius menyebut total sebanyak 14 orang anak yang diduga mengalami keracunan usai mengonsumsi makanan yang disediakan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Ia mengakui, laporan masuk perdana siswa yang diduga keracunan melalui layanan call center 112 sebanyak 3 orang. Berdasarkan pantauan di RSUD Kefamenanu jumlahnya berkembang menjadi 12 orang pada siang hari.

“Data pertama 12 orang itu dengan rincian 9 orang dari SDK Peboko, 2 orang dari SDN Gua Aplasi, dan 1 orang dari SDK Kefamenanu 1,” ujarnya.

Setelah itu, terdapat tambahan 2 orang pasien. Seorang anak masuk ke RSUD Kefamenanu dengan gejala yang sama pada sore hari dan 1 orang lainnya dilarikan ke RSUD Kefamenanu pada malam hari.

Sebanyak 14 pasien itu telah ditangani tim medis dan sudah kembali kembali ke rumah mereka masing-masing. 14 Orang tersebut berasal dari SDK Peboko sebanyak 11 orang anak, SDN Gua Aplasi sebanyak 2 orang anak dan SDK Kefamenanu 1 sebanyak 1 orang. Tidak ada siswa PAUD yang diduga mengalami keracunan usai mengonsumsi MBG.

Sementara itu, Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kefamenanu Tengah II, Adipontius A.Tefi menyebut pihaknya berhenti beroperasi sementara untuk menyediakan makanan Program MBG di sejumlah sekolah di Kota Kefamenanu.

“Kebetulan kemarin ada kejadian menonjol jadi ada beberapa murid yang masuk rumah sakit maka, kami sejak hari ini berhenti operasional, kami menunggu arahan dari Korwil dan atasan untuk mulai operasionalnya kapan,” ujarnya.