www.peristiwaaktual.com.ǁNTT,30 November 2025-RATUSAN warga tampak antusias di kompleks Situs Cagar Budaya Makam Raja-raja Taebenu, Jalan Trikora, Kelurahan Manutapen, Kecamatan Alak.
Suasana sakral terasa ketika seluruh peserta hadir mengenakan pakaian putih dan kain adat untuk mengikuti rangkaian acara peluncuran buku yang mengangkat sejarah Kerajaan Taebenu, Rabu (26/11/2025).
Peluncuran dilakukan Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, disaksikan ratusan warga yang hadir mengenakan pakaian putih dan kain adat. Dua buku tersebut masing-masing berjudul Melawan Lupa di Kerajaan Taebenu dan Serpihan Kisah dan Raja-Raja Tanof, karya tim penulis UPTD SD Negeri Palsatu dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional 2025.
Kepala sekolah sekaligus penulis utama, Belmira Sagrada Ferrao Santos, mengaku sangat terharu atas kehadiran Wali Kota Kupang yang secara langsung meluncurkan kedua buku tersebut.
“Ada banyak hal yang membuat saya sangat bangga, terharu, dan bersyukur bercampur bahagia yang luar biasa. Karena beliau hadir langsung dan meluncurkan buku kami, itu sesuatu yang sangat luar biasa,” ujarnya penuh emosi.
Belmira berharap apa yang disampaikan dalam sambutan Wali Kota, terutama terkait rencana penataan dan perbaikan situs budaya Taebenu, benar-benar dapat direalisasikan.
“Harapan saya, apa yang disampaikan Bapak Wali Kota bisa terealisasi supaya kita bisa membantu keluarga Tanof, khususnya masyarakat di Taebenu atau Manutapen,” katanya.
Belmira menjelaskan, ide menulis buku sejarah Kerajaan Taebenu berawal dari program field trip di sekolahnya. “Awalnya, kami di UPTD SD Negeri Palsatu punya program sekolah namanya field trip—kunjungan lapangan. Kami membawa kelas keluar dari ruang kelas dan hadirkan pembelajaran di tempat nyata,” jelasnya.
Anak-anak tambahnya, diajak mengunjungi situs cagar budaya yang berjarak sekitar 500 meter dari sekolah. Pada kunjungan itu, pihak sekolah menghadirkan keluarga Tanof sebagai narasumber langsung.
“Anak-anak belajar tentang budaya daerah lewat cerita lisan keluarga Tanof. Setelah mendengar cerita-cerita itu, saya terinspirasi, kenapa tidak dibukukan? Karena tutur lisan suatu saat bisa hilang,” ujarnya.
Menurut Belmira, generasi sekarang yang akrab dengan media sosial dan gawai cenderung semakin jauh dari tradisi menulis.
“Generasi yang akan datang sudah terbiasa dengan gadget. Mereka sudah nyaman dengan media sosial, tidak lagi terbiasa menulis. Harapan saya, dengan hadirnya buku ini, anak-anak bisa lebih giat berliterasi, dan punya hobi menulis yang tentu berawal dari banyak membaca,” tuturnya.
Perwakilan keluarga, Esau Tanof, menyampaikan rasa haru karena sejarah keluarga yang selama ini diwariskan secara lisan kini terdokumentasikan dengan baik. “Awalnya kami tidak pernah terpikir warisan ini akan ditulis dan dipublikasikan. Hari ini kami bangga karena sejarah Raja-raja Tanof diangkat kembali,” ujarnya.
Wali Kota Kupang, Christian Widodo, menyampaikan apresiasi atas peluncuran dua buku sejarah ini dan menegaskan komitmen pemerintah untuk merawat situs budaya Taebenu.
“Tahun 2026 area ini sudah memiliki SK penetapan sebagai situs cagar budaya. Pemerintah menganggarkan sekitar Rp300 juta untuk memperbaiki dan mempercantik kawasan ini,” jelasnya.
Wali Kota menekankan bahwa budaya adalah identitas yang harus dijaga bersama. “Budaya itu warisan leluhur, tapi juga pinjaman dari anak cucu kita. Suatu saat mereka akan bertanya, apa yang sudah kita lakukan untuk menjaga warisan ini?” katanya.
Acara ditutup dengan pemukulan Gong serta penandatanganan peresmian dua buku oleh Wali Kota Kupang, penyerahan simbolis karya kepada keluarga Tanof, serta sesi foto bersama di kompleks makam Raja-raja Taebenu.

