UNICEF Dorong Pemerintah Optimalkan Imunisasi Anak di NTT

www.peristiwaaktual.com.ǁNTT,26 April 2026-United Nations Children’s Fund ( UNICEF ) mendorong Pemerintah mengoptimalkan Imunisasi Anak, NTT termasuk menjangkau anak-anak hingga wilayah pelosok.

Kepala Kantor UNICEF Perwakilan NTT-NTB, Yudhistira Yewangoe mengatakan, pihaknya terus mendukung Pemerintah untuk pemberian imunisasi bagi anak-anak. Itu sejalan dengan mandat PBB yakni pemenuhan hak anak.

“Imunisasi adalah hak anak untuk mendapat hidup yang sehat. Khusus untuk NTT meskipun sudah perkembangan positif tapi masih jauh dari target yang diharapkan,” katanya, Sabtu (25/4/2026) di Kupang.

Dia mengatakan, UNICEF akan memperkuat kolaborasi dengan Pemerintah agar target 80 persen anak menerima imunisasi itu bisa tercapai. Yudhistira menyebut kendala imunisasi lengkap di NTT itu cukup berat.

Hal itu, menurut dia karena jangkauan atau geografis NTT yang berbasis kepulauan. Kesulitan menjangkau anak-anak di daerah pedalaman memang menjadi kendala.

Selain itu, dari sisi budaya dan persepsi masyarakat. Terkadang, kata dia, imunisasi dianggap tidak penting. Sehingga orang tua cenderung tidak membawa atau terlambat mengikuti imunisasi.

“Pencatatan anak-anak. NTT jumlah anak yang sudah memiliki akta kelahiran itu cukup rendah. Karena itu, memperngaruhi juga pendataan anak-anak,” katanya.

Yudhistira mengatakan, selain mendukung dalam pemberian imunisasi, UNICEF juga melaksanakan program mendukung Pemerintah untuk pencatatan melalui akta kelahiran. Salah satunya adalah pemberian akta kelahiran bagi anak-anak ketika lahir di rumah sakit.

Dia menegaskan, UNICEF juga terus mendukung Pemerintah terutama dalam menjaga vaksin imunisasi yang tetap terjaga. Sisi lain, dia mendorong Pemerintah agar meningkatkan kualitas sumber daya serta edukasi dan advokasi masyarakat.

Yudhistira mengatakan, di tengah kondisi global yang penuh tantangan, mulai dari perang di berbagai belahan dunia hingga tekanan ekonomi yang menyebabkan kenaikan harga kebutuhan hidup.

“Kita dihadapkan pada pilihan-pilihan penting. Salah satunya adalah memastikan kesehatan anak-anak kita tetap terlindungi,” katanya.

Dia menjelaskan, memberikan imunisasi adalah salah satu strategi paling efektif dan hemat biaya. Bayangkan, ketika harga kebutuhan meningkat, dan seorang anak jatuh sakit karena penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dengan vaksin.

Dalam kondisi itu, beban biaya pengobatan akan jauh lebih besar. Baginya, imunisasi bukan hanya melindungi kesehatan, tetapi juga melindungi ekonomi keluarga.

Yudhistira menyampaikan, di Indonesia, pemerintah telah menyediakan imunisasi secara gratis. Itu merupakan investasi besar negara untuk masa depan generasi bangsa.

“Namun, kita juga harus jujur bahwa hingga saat ini, masih ada anak-anak yang belum mendapatkan satu pun vaksin, yang kita kenal sebagai zero-dose children,” katanya.

UNICEF memiliki komitmen kuat untuk terus mendukung pemerintah dan seluruh mitra, agar setiap anak, tanpa terkecuali, mendapatkan imunisasi lengkap.

Pihaknya percaya bahwa dengan kolaborasi lintas sektor seperti tenaga kesehatan, pemerintah daerah, tokoh masyarakat, hingga keluarga, dapat menjangkau mereka yang paling membutuhkan.

“Mari kita jadikan momentum Hari Imunisasi Dunia ini sebagai pengingat bahwa setiap anak berhak sehat, setiap anak berhak terlindungi,” katanya.

Dokter Frans Taolin mengatakan,  pihaknya turut terlibat dalam imunisasi. Tugasnya adalah melakukan kajian pasca imunisasi. Biasanya, terjadi keluhan medis.

“Yang ringan itu laporan tiap bulan. Tapi kalau serius itu seperti masuk rumah sakit, yang menyebabkan masal itu harus dikaji. Di Provinsi Komda KIPI,” katanya.

Pihaknya melakukan kajian untuk mendalami jika ditemukan sebuah kejadian pasca imunisasi. Persoalan itu, menurut dia, bisa dilatari oleh vaksin hingga program.

Paling banyak kejadian adalah faktor kebetulan kejadian tersebut terjadi bersama-sama. Misalnya, setelah diberi imunisasi dan orang itu mengonsumsi sesuatu di luar dan terjadi kontaminasi dan membuat orang tersebut diare.

“Kita kaji apakah itu disebabkan oleh imunisasi atau sebab lain. Sepanjang yang kita kaji, lebih banyak penyebabnya adalah co- insiden,” katanya.

Setelah kajian, diberikan rekomendasi dan diberikan penjelasan ke masyarakat atau orang tua. Frans mengatakan, di NTT ketika pandemi covid-19 memang banyak keluhan.

“Semuanya terjadi kebetulan bersamaan, yang namanya co insiden. Yang kebetulan terjadi setelah imunisasi, bukan vaksinnya. Tidak usah takut imunisasi. Hampir tidak ada penyebabnya pasif,” katanya.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTT Ruth D. Laiskodat mengatakan, jajaran kesehatan
di seluruh kabupaten dan kota berada dalam posisi siap bekerja, siap melayani, dan siap
berkolaborasi untuk meningkatkan cakupan imunisasi diwilayah NTT.

Ruth mengatakan, selama tiga tahun terakhir capaian imunisasi dasar lengkap di NTT belum
stabil dan belum memenuhi harapan bersama. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi
NTT, cakupan imunisasi dasar lengkap bayi tercatat 71,9 persen pada 2023, turun menjadi 43,5 %
pada 2024, dan meningkat menjadi 63,2 % pada 2025 walaupun belum mencapaitarget 80 %
ditahun 2025.

“Data ini menjadi alarm bersama bahwa penguatan pelayanan imunisasiharus
dilakukan secara lebih terarah, lebih merata, dan lebih kolaboratif,” katanya.

Secara nasional, tantangan yang sama juga masih dihadapi. Kementerian Kesehatan
melaporkan bahwa hingga pertengahan Desember 2025, cakupan imunisasi bayi lengkap nasional mencapai 80,2 % ,sedangkan cakupan imunisasi baduta lengkap mencapai 77,2 % .

Fakta ini menunjukkan bahwa upaya percepatan imunisasi tidak hanya menjadi prioritas di NTT, tetapi juga agenda penting nasional untuk memastikan anak-anak Indonesia terlindungi dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.

Karena itu, Dinas Kesehatan Provinsi NTT menyambut Pekan Imunisasi Dunia sebagai momentum strategis untuk memperkuat kepercayaan masyarakat, memperluas jangkauan pelayanan, dan mempercepat pemenuhan hak kesehatan masyarakat.

“Kami juga ingin menegaskan kepada masyarakat bahwa Dinas Kesehatan Provinsi
NTT optimistis target perbaikan cakupan imunisasi dapat dicapai apabila seluruh pihak bergerak bersama,” ujarnya.