Antisipasi Gempa Susulan, Siswa SMPN 8 Komodo Belajar di Bawah Tenda

www.peristiwaaktual.com.ǁNTT,3 September 2026-Gempa bumi yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur tidak hanya meninggalkan kerusakan pada bangunan, tetapi juga rasa takut bagi para siswa.

Kondisi itu membuat SMP Negeri 8 Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, mengambil langkah berbeda dalam proses belajar mengajar.

Sejak Rabu, 2 September 2026, para siswa SMPN 8 Komodo kembali mengikuti pembelajaran tatap muka, namun tidak di dalam ruang kelas.

Kegiatan belajar sementara dipindahkan ke ruang terbuka dengan memanfaatkan tenda.

Kepala Sekolah SMP Negeri 8 Komodo, Aloysia Moto, mengatakan keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan kondisi psikologis siswa serta keamanan bangunan sekolah.

“Selama masa tanggap darurat, kita lebih mementingkan psikologis anak, terutama rasa ketakutan,” ujar Aloysia, Kamis (3/9/2026).

Menurutnya, gempa yang terjadi berulang kali sebelumnya membuat kepanikan menjadi salah satu hal yang paling dikhawatirkan.

Bukan hanya risiko tertimpa reruntuhan, kepanikan saat merasakan getaran juga dapat membuat siswa berlari tanpa terkendali.

“Apalagi kita punya lantai dua. Ketika ada getaran, anak mungkin panik dan langsung lari. Ini yang sangat mengkhawatirkan,” ungkapnya.

Karena itu, pembelajaran di ruang terbuka sekaligus menjadi bagian dari upaya mengembalikan rasa aman siswa.
Aloysia ingin anak-anak memahami bahwa kegiatan belajar tetap dapat berlangsung meski untuk sementara mereka tidak berada di dalam kelas.

“Jadi kita meyakinkan anak-anak untuk mengembalikan rasa aman mereka, bahwa ternyata belajar pun tidak harus di dalam ruangan kelas. Di luar juga aman untuk kami,” ujarnya.

Keputusan kembali menggelar pembelajaran tatap muka di luar kelas juga tidak terlepas dari persoalan selama hampir dua pekan pembelajaran daring.

Aloysia menyebut keterbatasan perangkat menjadi salah satu kendala utama. Sebagian siswa harus menggunakan telepon seluler milik orang tua, sementara orang tua juga memiliki kesibukan masing-masing.

Selain itu, pembelajaran daring membutuhkan akses internet dan pendampingan orang tua, terutama bagi siswa kelas VII.

Kondisi tersebut dikhawatirkan membuat siswa mengalami learning loss atau kehilangan kesempatan belajar secara optimal.

“Kita ingat kembali masa COVID dulu. Kami mengkhawatirkan mungkin nantinya bisa ada learning loss,” ujarnya.

Setelah berdiskusi bersama dewan guru dan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Manggarai Barat, sekolah akhirnya memutuskan pembelajaran tatap muka tetap dilakukan, tetapi di ruang terbuka.

Pembelajaran pun tidak semata-mata mengejar materi akademik.
Menurut Aloysia, kegiatan belajar saat ini juga diarahkan sebagai bagian dari trauma healing bagi siswa. Guru memberikan pemahaman mengenai gempa dari sisi ilmu pengetahuan sekaligus mengajarkan langkah yang harus dilakukan ketika gempa kembali terjadi.

Termasuk mengajarkan siswa agar tidak langsung berhamburan ketika merasakan getaran.

“Kalau ada gempa, bagaimana anak harus bersikap. Apakah langsung lari atau bagaimana jalurnya,” ujarnya.

Pemindahan pembelajaran ke luar kelas juga dilakukan karena hampir seluruh ruang kelas di SMPN 8 Komodo mengalami retakan akibat gempa.

Namun, terdapat satu ruang kelas, yakni kelas 8A, yang mengalami kerusakan cukup besar.

Aloysia mengatakan pihak sekolah belum dapat menentukan tingkat kerusakan bangunan tersebut, apakah ringan, sedang, atau berat.

“Kami tidak punya kriteria untuk menentukan apakah ini masih rusak ringan, sedang atau berat. Kami menunggu dari dinas yang punya kewenangan untuk menentukan jenis kerusakannya,” ujarnya.

Ia mengatakan kondisi ruang kelas 8A cukup mengkhawatirkan karena retakan terlihat menembus dari bagian dalam hingga ke luar bangunan.

Karena itu, sekolah memilih tidak mengambil risiko dan menunggu evaluasi dari pihak berwenang sebelum kembali menggunakan ruang kelas.

Saat ini, sekolah memanfaatkan tenda milik sekolah yang sebelumnya digunakan untuk kegiatan perkemahan Pramuka.

Selain itu, SMPN 8 Komodo juga menerima bantuan tiga tenda dari BNPB serta 10 unit tikar untuk alas duduk siswa.

Meski bersyukur atas bantuan tersebut, Aloysia berharap ke depan sekolah bisa mendapatkan tenda yang lebih layak untuk menunjang proses pembelajaran selama masa pemulihan pascagempa.

Ia mengaku kondisi tenda yang digunakan saat ini belum ideal untuk kegiatan belajar mengajar.

Gangguan dari lingkungan sekitar membuat konsentrasi siswa maupun guru terkadang terganggu.

“Kalau seperti ini kan nanti bisa terdistraksi. Ada yang lewat, dia balik toleh. Gangguan-gangguan itu pasti ada,” ungkapnya.

Ia berharap sekolah dapat memperoleh tenda seperti yang telah digunakan di sejumlah daerah terdampak bencana lainnya.

Menurutnya, tenda tersebut tidak akan sia-sia setelah kondisi kembali normal karena masih dapat dimanfaatkan untuk kegiatan Pramuka.

“Jika memang nanti bencana ini selesai, tenda itu bisa digunakan untuk kemping Pramuka. Setiap tahun kami juga membuat perkemahan Sabtu-Minggu di sekolah,” ujarnya.