Panen Raya Jagung di Lapas Kupang, WBP Berhasil Sulap Lahan Tandus Jadi Produktif

www.peristiwaaktual.com.ǁNTT,24 Mei 2026-Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) NTT bersama PT SMJ sukses menggelar panen raya jagung di Kebun SAE (Sarana Asimilasi dan Edukasi) Lapas Kelas IIA Kupang, Jumat 22 Mei 2026.

Kegiatan tersebut menjadi bentuk nyata dukungan Pemasyarakatan terhadap program ketahanan pangan nasional yang sejalan dengan Asta Cita Presiden Republik Indonesia serta 15 Program Aksi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan.

Panen raya tersebut dihadiri langsung oleh Anggota DPD RI Abraham Paul Liyanto, Ketua DPRD Provinsi NTT, Emilia Nomleni, Bupati Kabupaten Kupang, Yosef Lede, unsur Forkopimda Provinsi NTT dan Kota Kupang, Kakanwil Ditjen Imigrasi NTT, pimpinan instansi pemerintah Provinsi dan Kota Kupang, Kepala UPT Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan se-Kupang Raya, akademisi, perwakilan PT Sigenta Indonesia, hingga PT Sumber Energi Pangan Indonesia.

Kegiatan diawali dengan pemaparan Direktur PT SMJ terkait proses pengolahan lahan, metode penanaman, pemeliharaan hingga masa panen.

Setelah itu, seluruh tamu undangan mengikuti panen jagung secara simbolis di lahan SAE Lapas Kupang.

Kepala Kantor Wilayah Ditjenpas NTT, Ketut Akbar Herry Achjar, dalam sambutannya menegaskan bahwa keberhasilan panen raya ini bukan sekadar hasil pertanian, melainkan bagian dari proses pembinaan kemandirian bagi warga binaan.

Menurutnya, lahan karang yang sebelumnya tandus seluas kurang lebih 2,5 hektar berhasil disulap menjadi lahan produktif melalui kolaborasi bersama PT SMJ.

Dari 28 kilogram benih jagung yang ditanam, berhasil dipanen sekitar 10 ton jagung.

“Di atas lahan seluas kurang lebih 2,5 hektar, dengan 28 kilogram benih yang ditanam, hari ini berhasil dipanen sekitar 10 ton jagung. Ini bukan hanya keberhasilan pertanian, tetapi bentuk dukungan kami terhadap kemandirian pangan,” ujar Ketut.

Ia menjelaskan, seluruh proses pengelolaan kebun jagung tersebut dikerjakan langsung oleh warga binaan pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas IIA Kupang sebagai bagian dari program pembinaan kemandirian.

Melalui kegiatan tersebut, kata dia warga binaan tidak hanya menjalani masa pidana, tetapi juga dibekali keterampilan pertanian, disiplin kerja, serta pengalaman lapangan agar ketika kembali ke tengah masyarakat nantinya mereka telah memiliki kemampuan untuk mandiri dan produktif.

“Pemasyarakatan hari ini bukan hanya tentang menjalani hukuman, tetapi bagaimana negara hadir membina dan mempersiapkan warga binaan agar siap kembali menjadi bagian dari masyarakat,” tambahnya.

Apresiasi terhadap program tersebut juga disampaikan Abraham Lianto.

Ia menilai keberhasilan mengubah lahan berbatu menjadi kebun produktif dapat menjadi contoh bagi daerah lain di NTT yang memiliki banyak lahan tidur dengan karakter tanah serupa.

“Saya kira ini bisa menjadi contoh buat NTT, karena daerah kita memiliki banyak lahan tidur dengan kontur tanah berbatu yang hari ini terbukti bisa disulap melalui kolaborasi. Dari kegiatan ini, kita bisa mengambil makna penting di tengah isu El Nino dan situasi geopolitik yang memicu kenaikan harga-harga, di mana jagung dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan alternatif saat musim kelaparan,” ungkap Abraham.

Sementara itu, Direktur Utama PT SMJ, Silvester Sudin, menjelaskan bahwa kerja sama dalam Program SAE ini sejalan dengan prinsip 5P yang menjadi dasar pemberdayaan perusahaan di NTT, yakni pemberdayaan, pelatihan, pendampingan, pengembangan, dan profil.

Menurutnya, kerja sama dengan Lapas Kupang difokuskan pada pembinaan yang memberikan dampak nyata bagi warga binaan.

“Kerja sama dalam Program SAE ini adalah bukti nyata dari prinsip 5P kami, di mana kami fokus pada pemberdayaan yang saling menguntungkan serta memberikan pelatihan dan pendampingan berkelanjutan agar warga binaan memiliki keterampilan yang berdampak nyata,” tutur Silvester.

Keberhasilan panen raya ini menjadi gambaran bahwa pembinaan di lembaga pemasyarakatan tidak hanya berfokus pada keamanan, tetapi juga pada pembangunan kualitas manusia.

Melalui sinergi antara Pemasyarakatan, pemerintah daerah dan SMJ, ia berharap program ketahanan pangan diharapkan terus berlanjut sekaligus menjadi bekal kehidupan baru bagi warga binaan setelah bebas nantinya.