www.peristiwaaktual.com.ǁNTT,30 Juli 2026-Seorang guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di SDN Nunfutu 1, Desa Wekeke, Kecamatan Rinhat, Kabupaten Malaka, membuktikan bahwa pengabdian kepada dunia pendidikan tidak selalu lahir dari kemudahan.
Di tengah keterbatasan infrastruktur dan medan yang berat, ia tetap menempuh perjalanan panjang setiap hari demi memastikan anak-anak di pelosok tetap memperoleh hak mereka atas pendidikan.
Guru tersebut adalah Yohanes Seran Fahik, pengampu mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK), yang berdomisili di Desa Kakaniuk, Kecamatan Malaka Tengah.
Setiap hari, Yohanes harus menempuh perjalanan sekitar 70 kilometer dengan waktu tempuh lebih dari dua jam menuju sekolah tempatnya mengajar. Perjalanan itu tidak hanya menguras tenaga, tetapi juga penuh risiko, terutama saat musim hujan.
di SDN Nunfutu 1, Rabu (29/7/2026), Yohanes menceritakan perjuangan yang telah dijalaninya sejak mulai bertugas pada tahun 2025. Menurutnya, kondisi akses menuju sekolah masih sangat memprihatinkan dan menjadi tantangan yang harus dihadapi setiap hari.
“Terkait akses ke sini memang masih cukup memprihatinkan. Saat hujan turun jalannya sangat licin sehingga kami harus benar-benar berhati-hati. Perjalanan menjadi jauh lebih sulit dibandingkan saat musim kemarau,” ungkapnya.
Tantangan terbesar, lanjut Yohanes, adalah saat harus melintasi kali di Desa Tafuli yang hingga kini belum memiliki jembatan. Ketika hujan mengguyur wilayah tersebut dan debit air meningkat, seluruh aktivitas penyeberangan terpaksa dihentikan karena sangat berbahaya.
“Kalau hujan turun dan banjir datang, kami tidak bisa langsung lewat. Kami harus menunggu air benar-benar surut baru bisa menyeberang. Keselamatan tetap menjadi yang utama,” katanya.
Pantauan dari Desa Kakaniuk menuju Desa Wekeke, perjalanan sebenarnya relatif nyaman hingga memasuki Desa Niti karena sebagian besar ruas jalan telah beraspal hotmix. Meski demikian, masih terdapat beberapa titik jalan yang rusak dan patahan akibat longsor.
Kondisi berubah drastis setelah memasuki Desa Tafuli. Jalan tanah berbatu dengan tanjakan curam menjadi jalur utama yang harus dilalui. Saat hujan, lintasan tersebut berubah menjadi kubangan lumpur yang licin dan sangat berisiko bagi pengendara roda dua.
Belum lagi sebuah kali selebar kurang lebih 50 meter yang memisahkan akses menuju sekolah. Karena belum tersedia jembatan, para pengendara hanya dapat melintasi dasar kali ketika debit air rendah. Saat banjir datang, seluruh akses praktis terputus sehingga warga maupun para guru harus menunggu hingga air surut.
Meski menghadapi berbagai kesulitan tersebut, Yohanes mengaku tidak pernah berniat meninggalkan sekolah tempatnya mengabdi. Baginya, perjuangan menempuh perjalanan jauh setiap hari merupakan bagian dari tanggung jawab seorang pendidik dalam membentuk masa depan generasi muda di wilayah perbatasan.
“Saya percaya setiap anak memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang baik, meskipun mereka tinggal di daerah pelosok. Kalau kami sebagai guru menyerah karena medan yang sulit, lalu siapa yang akan mendampingi mereka belajar. Itu yang selalu memotivasi saya untuk tetap datang mengajar setiap hari,” ujarnya.
Ia menambahkan, kebahagiaan terbesar sebagai seorang guru bukanlah ketika perjalanan menjadi mudah, melainkan ketika melihat para siswa tetap bersemangat datang ke sekolah meski belajar di ruang kelas yang serba terbatas. Semangat anak-anak itulah yang menjadi sumber kekuatan baginya untuk terus bertahan dan mengabdi.
Yohanes berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih terhadap kondisi SDN Nunfutu 1, baik dari sisi pembangunan gedung sekolah maupun peningkatan infrastruktur jalan menuju lokasi tersebut. Menurutnya, fasilitas pendidikan yang layak akan membantu guru mengajar lebih efektif sekaligus memberikan kenyamanan bagi para siswa dalam menuntut ilmu.
“Harapan saya ke depan, kalau bisa sekolah ini diperbaiki agar menjadi lebih layak. Dengan begitu kami para guru bisa mengajar dengan lebih nyaman, proses belajar mengajar berjalan efektif, dan anak-anak bisa memperoleh pendidikan yang lebih baik,” tuturnya.
Kisah perjuangan Yohanes Seran Fahik menjadi gambaran nyata bahwa masih ada guru-guru di pelosok negeri yang memilih bertahan di tengah segala keterbatasan.

