Warga Persoalkan Pembangunan Sarana Air Bersih di Desa Mbengan Manggarai Timur

www.PeristiwaAktual.com.ǁNTT,1 Oktober 2026-Proyek pembangunan jaringan untuk penambahan debit air minum bersih di Kampung Nunur, Desa Mbengan, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur yang bersumber dari dana desa tahun anggaran 2026 diduga dikerjakan asal jadi, tanpa mempertimbangkan pemanfaatannya.

Warga Desa Mbengan, Paulus Jomang, Lodovikus Bali, dan sejumlah warga lainya menyampaikan hal itu, Kamis (1/10/2026).

Lodovikus Bali, mengatakan, proyek itu mulai dikerjakan pada bulan Januari 2026 lalu menggunakan anggaran dari dana desa untuk melayani warga di dua dusun yakni Dusun Nunur, dan Dusun Nunur Baru desa tersebut untuk melayani 223 rumah.

Namun tidak diketahui berapa besar anggaran untuk pekerjaan proyek tersebut, karena tidak dipasang papan proyek atau papan tender.

“Sebagai warga kami tidak mengetahui berapa besar anggaran proyek tersebut, karena papan proyek tidak ada,” ujar Lodovikus diamini Paulus Jomang dan warga lainya.

Dikatakan Lodovikus, air tersebut sempat mengalir karena pada saat itu masih musim hujan sehingga debit air masih sedikit banyak. Namun diawal bulan Juni 2026, memasuki musim kemarau, air sudah tidak berjalan di pipa transmisi sampai di bak penampung umum (BPU) hingga saat ini.

Karena itu, sebagai masyarakat mereka kemudian pergi melihat langsung pekerjaan sejumlah item di lokasi sumber mata air termasuk broncaptering. Hasil pantauan pekerjaan broncaptering belum selesai dikerjakan saat itu.

“Beberapa hari lalu kami pergi cros cek langsung beberapa item pekerjaan di mata air termasuk broncaptering juga belum selesai dikerjakan. Saya juga sempat tanya kepala tukang yang kerja bilangnya sudah selesai kerja,” ujar Lodovikus

Sebagai masyarakat mereka juga telah mengingatkan kepada pemerintah Desa melalui kepala tukang agar proyek itu tidak dikerjakan sehingga tidak mubasir karena kondisi debit air tidak mencukupi apalagi disaat musim kemarau nantinya.

“Kami juga sempat minta kepala tukang untuk tidak usah kerjakan karena mata airnya tidak bertahan, namun jawabanya mereka bahwa sudah uji coba debit mata airnya pas dengan volume air 5 liter/detik. Sementara survei sebelum pembangunan itu dilaksanakan disaat bulan November 2025 lalu, tentu saat itu debit air masih cukup karena dimusin hujan,” ujar Lodovikus.

Karena itu, warga berharap agar pihak berwajib maupun Intansi terkait untuk turun melakukan cros cek sendiri. Sebagai masyarakat juga berharap kepada Kepala Desa Mbengan untuk mempertanggung jawabkan anggaran yang diduga sudah menipu masyarakat di dua dusun tersebut.

Sejumlah Proyek Diduga Fiktif

Bukan hanya proyek air bersih ini saja, sejumlah proyek pekerjaan yang menggunakan anggaran dari dana desa juga dinilai masyarakat fiktif, termasuk proyek air bersih dari program Pamsimas pada tahun 2021 lalu.

Warga lainya juga merupakan Tokoh Adat Kampung Bungan, Paulus Jomang, juga menerangkan, pada tahun anggaran 2021 dengan sumber dana dari Pamsimas sekitar Rp 245 juta untuk pembangunan air bersih. Namun pekerjaan masih berjalan, sudah dilakukan serah terima oleh kepada desa, sehingga pekerjaan tidak sampai selesai.

“Yang bikin menyadarkan kami waktu itu terhadap kinerja kepala desa yang kurang baik dimana di tengah jalan belum sampai dititik sasaran sudah dilakukan kegiatan serah terima, sehingga perkerjaan tidak sampai selesai. Apalagi serah terima bukan dilakukan di lokasi program, tetapi dilakukan ditempat lain,”ujarnya.

Warga saat itu kemudian mempersoalkannya dan meminta kepala desa untuk mempertanggung jawabkan masalah tersebut, namun hingga saat ini belum ada titik terang. Sementara airnya juga tidak jalan hingga saat ini.

Kemudian, proyek pekerjaan jalan tani bersumber dari dana desa pada tahun anggaran 2023 sebesar Rp 80 juta dengan panjang 3.300 meter dari Dusun Nunur-Pandang-Dusun Bungan. Namun setelah warga cros cek ternyata hanya berjarak 2.600 meter.

Di lain sisi nomenklatur pekerjaan juga sebenarnya bukan penggalian/pengusuran jalan baru, tetapi rehabilitasi atau peningkatan jalan baru.

“Jadi ini terjadi penipuan terhadap kami warga, sementara nomenklaturnya sebenarnya bukan penggusuran jalan baru tetapi rehabilitasi karena sebelumnya sudah digali dan sudah dilewati mobil,”ujar Paulus.

Paulus juga mengatakan, dari berbagai dugaan penyelewengan dana desa melalui berbagai proyek pekerjaan itu, termasuk pembangunan rabat jalan di sejumlah titik yang tidak sesuai dengan spesifikasi, mereka kemudian mendapatkan bukti kuat yaitu SPJ Kepala Desa Mbengan.

Salah satu poin laporan paling fiktif, kata Paulus, dalam laporan SPJ itu ada pekerjaan pembangunan dua unit MCK dengan pagu dana sebesar Rp 100 juta. Namun nyatanya tidak ada bukti fisik pekerjaan.

“Ini aneh dan lucu, dalam SPJ salah satu poin pembangunan MCK dengan pagu dana jelas Rp 100 juta, tetapi bukti fisiknya tidak ada. Ini sangat kami geleng-geleng kepala,”ujar Paulus.

Selain itu juga terdapat persoalan dalam pengelolaan air minum bersih yang dikelola oleh Bumdes. Terdapat sekitar Rp 22 juta lebih dari modal dasar Rp 50 juta yang diselewengkan. Terhadap persoalan ini sudah dilakukan rapat bersama dan akan dilakukan pembayaran, namun realisasinya hingga saat ini tidak diketahui.

“Realisasinya sampai saat ini kami tidak tahu pak apakah sudah diselesaikan atau belum. Dana itu belum termasuk iuran dari pelanggan sebesar Rp 10.000/pelanggan/bulan,”ujar Paulus.

Desak Jaksa Selediki

Paulus juga mengatakan, terkait dengan persoalan-persoalan tersebut, di luar dari persoalan pekerjaan peningkatan air minum bersih pada Tahun Anggaran 2026 ini, masyarakat Desa Mbengan juga telah melaporkan kepada pihak Kejaksaan Negeri Manggarai pada bulan April Tahun 2024 lalu dibuktikan dengan bukti-bukti termasuk dokumentasi, namun sudah hampir mencapai 2 tahun pihak Kejaksaan belum merespon penganduan itu.

Karena itu, mereka mendesak agar pihak Kejaksaan untuk segera merespon dengan turun melakukan pemeriksaan atas dugaan penyelewengan dana desa melalui berbagai paket proyek itu termasuk dana Pamsimas itu.

“Kita mendesak pihak Jaksa respon pengaduan kita ini untuk turun melakukan pemeriksaan langsung. Karena begitu banyak proyek-proyek yang dikerjakan oleh desa hanya untuk menghabiskan anggaran, mencari keuntungan oleh oknum-oknum tertentu dan tidak berdampak manfaat untuk kami masyarakat,”Ujar Paulus.

Sementara itu Kepala Desa Mbengan Yohanes Tobi, beberapa hari lalu melalui pesan WatsApp mengatakan tidak bisa melakukan klarifikasi lewat WA terkait proyek pekerjaan air minum bersih itu dengan alasan pesan harus ditulis sangat panjang.

“terlalu panjang jika saya harus klarifikasi via WA, mungkin kalau ditulis bisa satu buku, itu terkait kronologis pembangunan sarana AMB baik yang direncanakan tahun 2024 maupun 2025,”tulisnya di pesan WatsApp.

kemudian memintanya untuk bisa WA intinya saja, apa alasan sampai air tidak jalan, apakah masih proses pekerjaan atau mungkin Alasan lain seperti debit air berkurang atau mungkin dampak lain.

Namun, ia sempat merespon agar segera dibalas selesai mengikuti misa, namun pesan tersebut langsung dihapusnya.

terus berusaha konfirmasi dengan menghubunginya  melalui pesan WatsApp namun tidak direspon meskipun pesan sudah terkirim.

Wartawan juga sudah mengirimkan pesan konfirmasi terkait beberapa item yang disampaikan warga terkait sejumlah proyek yang diduga fiktif itu namun tidak direspon.

Pada Kamis (1/10/2026), dihubungi melalui sambungan telepon, Kades Mbengan Yohanes Tobi, kemudian mengangkat telepon itu.

Dalam pembicaraan itu, ia mengaku malas untuk menyampaikan klarifikasi karena sangat panjang ceritanya.

“Saya sudah malas, malas mau klarifikasi karena pusing panjang lebar ceritanya,”ujarnya.

Ditanya terkait sejumlah proyek yang dinilai janggal oleh masyarakat mulai dari pembangunan air bersih dari pamsimas, pembukaan jalan tani, hingga ditemukan fiktif pembangunan MCK senilai Rp 100 juta bahakan telah diadukan masyarakat ke Kejaksaan Negeri Manggarai, kata Yohanes, itu tidak benar.

“Itu tidak benar, tidak ada program pembangunan MCK di Desa Mbengan baik program Pemerintah daerah atau Desa. Itu hanya karang-karang mereka,”ujarnya.

Bahkan Yohanes mempersilahkan masyarakat untuk melaporkan ke aparat penegak hukum. Ia mengaku banyak sibuk dalam urusan baik urusan pembangunan maupun urusan lain di kampung.

“Lapor saja, saya sudah jenuh dengan klarifikasi ini, kita ini banyak sibuk ini, mana urusan pembangunan mana urusan di kampung banyak keperluan di kampung,” ujarnya.