Waspada, Ada Retakan Baru Muncul di Danau Kelimutu Ende, Pertanda Apa

www.hukumnasional.com.ǁNTT,23 September 2026-Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026 lalu berdampak pada kawasan Danau Kelimutu di Desa Pemo, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende.

Pascagempa tersebut, retakan baru dilaporkan muncul di bibir Kawah Dua atau Tiwu Ko’ofai Nuwamuri.

Retakan berada di sekitar area pagar pembatas kawah dengan panjang diperkirakan mencapai 20 hingga 30 meter. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kawasan Kelimutu merupakan kawasan gunung api aktif yang memiliki aktivitas vulkanik.

Selain munculnya retakan, Tiwu Ko’ofai Nuwamuri saat ini juga mengalami perubahan warna menjadi putih susu.
Untuk memastikan keselamatan dan kenyamanan wisatawan, Balai Taman Nasional Kelimutu memberlakukan pembatasan jam kunjungan ke kawasan tersebut.

Kepala Balai Taman Nasional Kelimutu, Heru Rudiharto, Selasa (22/9), mengatakan, keputusan itu diambil setelah dilakukan pembahasan bersama Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), pemerintah daerah, kepolisian, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ende.

Menurut Heru Rudiharto, sebelum terjadinya gempa, wisatawan masih dapat mengunjungi kawasan Kelimutu sejak dini hari untuk menikmati matahari terbit.

Namun, kondisi pascagempa membuat waktu kunjungan harus disesuaikan dengan faktor keselamatan.

“Karena ada retakan-retakan baru di bibir kawah dampak dari gempa Flores, untuk keselamatan pengunjung kami hanya membuka setelah terang. Kalau sebelum gempa kan para pengunjung bisa menikmati sunrise. Berdasarkan hasil diskusi bersama PVMBG, Pemda, Kepolisian, BPBD, kami hanya mulai buka jam 7 ke atas sampai jam 12 siang demi keselamatan pengunjung,” jelas Heru Rudiharto.

Selain pembatasan jam kunjungan, Balai Taman Nasional Kelimutu juga menutup sementara akses menuju Kawah Tiwu Ata Polo dan Kawah Tiwu Ko’ofai Nuwamuri.

Pengunjung untuk sementara dilarang mendekati bibir kedua kawah tersebut sebagai langkah antisipasi terhadap potensi bahaya di sekitar kawasan yang mengalami retakan dan longsoran.

Sementara itu, area puncak Danau Kelimutu masih tergolong aman untuk dikunjungi. Meski demikian, wisatawan tetap diminta mengikuti seluruh arahan petugas di lapangan dan mematuhi batas waktu kunjungan yang telah ditetapkan.

Heru Rudiharto menjelaskan, kondisi pembatas di sekitar Kawah Tiwu Ata Polo dan Tiwu Ko’ofai Nuwamuri memang perlu mendapat perhatian karena kawasan tersebut merupakan bagian dari gunung api aktif.

Aktivitas vulkanik Gunung Kelimutu berlangsung secara terus-menerus. Selain itu, faktor cuaca juga menyebabkan batuan di sekitar kawah mengalami pelapukan sehingga berpotensi mengalami longsoran.

“Namanya gunung api, jadi aktivitas vulkanis itu berjalan terus. Jadi batuan itu mengalami pelapukan karena cuaca sehingga sering terjadi longsoran. Itu fenomena alam biasa,” jelas Heru Rudiharto.

Heru Rudiharto menambahkan, pembatas di sekitar Kawah Tiwu Ata Polo maupun Tiwu Ko’ofai Nuwamuri juga sempat mengalami longsoran ketika gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026.