www.peristiwaaktual.com.ǁNTT,4 Agustus 2026-Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Belu menggelar Pelatihan Pencegahan dan Mitigasi Bencana bagi aparatur desa, tokoh masyarakat, dan warga di Desa Lookeu, Kecamatan Tasifeto Barat. Senin (3/8/2026).
Kegiatan ini bertujuan memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengenali potensi bencana serta meningkatkan kesiapsiagaan untuk mengurangi risiko dan dampak yang ditimbulkan.
Pelatihan tersebut merupakan bagian dari program BPBD Kabupaten Belu dalam memperkuat upaya pencegahan dan kesiapsiagaan bencana di tingkat desa.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Belu, drg. Maria Ansila F. Eka Mutty, Selasa (4/8/2026) mengatakan pelatihan ini dirancang untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai kebencanaan, sekaligus memperkuat peran aparat desa dan warga dalam menghadapi situasi darurat.
“Melalui pelatihan ini kami ingin meningkatkan pengetahuan dan kesiapsiagaan masyarakat agar memahami langkah-langkah pencegahan, mitigasi, dan penanganan awal ketika terjadi bencana. Dengan demikian, risiko maupun dampak bencana dapat ditekan semaksimal mungkin,” kata drg. Maria Ansila E. Mutty.
Selama pelatihan, peserta menerima materi mengenai dasar-dasar kebencanaan, tugas dan fungsi BPBD, serta strategi pengurangan risiko bencana di lingkungan masing-masing.
Tidak hanya penyampaian materi, petugas BPBD Belu juga menggelar simulasi penanganan bencana yang melibatkan seluruh peserta.
Dalam simulasi tersebut, peserta mempraktikkan prosedur evakuasi, koordinasi saat kondisi darurat, hingga langkah-langkah penyelamatan sesuai standar penanggulangan bencana.
“Sebagai bagian dari kegiatan, peserta bersama petugas BPBD juga melakukan pemasangan rambu-rambu daerah rawan bencana di sejumlah titik sebagai media edukasi sekaligus pengingat bagi masyarakat agar lebih waspada terhadap potensi ancaman bencana,” jelasnya.
Maria Ansila berharap pelatihan ini mampu membentuk masyarakat yang lebih tangguh dan mandiri dalam menghadapi bencana.
Menurutnya, kesiapsiagaan merupakan kunci utama untuk meminimalkan korban jiwa maupun kerugian apabila terjadi bencana.
“Kami berharap ilmu yang diperoleh selama pelatihan dapat diterapkan dan disebarluaskan kepada masyarakat lainnya, sehingga budaya sadar bencana semakin tumbuh di setiap desa,” pungkasnya.

