Seorang Guru dan 4 Siswa di Manggarai Timur Meninggal Saat Gempa Flores

www.hukumnasional.com.ǁNTT,15 September 2026-Gempa Flores Magnitudo 7.7, Sabtu 15 Agustus 2026 lalu juga menewaskan 1 orang guru dan empat orang anak berstatus siswa di Kabupaten Manggarai Timur.

Hal ini disampaikan oleh Sekertaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Manggarai Timur Marselinus Enggu, Selasa (15/9/2026).

Adapun berdasarkan data terbaru Posko Pusat Kabupaten Manggarai Timur, hingga Sabtu (12/9/2026) tercatat korban meninggal dunia 50 orang, luka berat 239 orang, luka ringan 404 orang dengan jumlah pengungsi 24.124 orang serta total kerusakan infrastruktur 31.936 unit.

Marselinus menerangkan, kelima orang korban meninggal dunia ini karena tertimpa runtuhan bangunan rumah saat gempa Magnitudo 7.7 juga saat terjadi gempa susulan.

Sedangkan guru yang terdampak sebanyak 53 orang baik yang mengalami rumah rusak berat, sedang, dan rusak ringan, termasuk juga yang mengalami patah tulang, luka berat, luka sedang dan ringan. Bukan hanya itu, sebagian besar guru dan peserta didik juga mengalami trauma berat akibat gempa tersebut.

441 Gedung Sekolah Rusak 

Marselinus juga menerangkan dampak gempa bumi dahsyat dan juga gempa bumi susulan juga merusakan sedikitnya 441 gedung sekolah.

Terdiri dari 56 gedung TK/PAUD, gedung SD 263, dan SMP sebanyak 122 mengalami kerusakan.

Aktifitas KBM di Posko Darurat

Marselinus juga menerangkan, pihaknya juga sudah mengeluarkan surat edaran ketiga terkait aktifitas kegiatan belajar mengajar (KBM) di posko darurat.

Surat edaran ini mengikuti surat tanggap darurat yang dikeluarkan oleh Bupati Manggarai Timur.

Surat edaran pertama dari tanggal 15 sampai 29 Agustus 2026 dimana pembelajaran dari rumah. Kemudian surat edaran kedua dari tanggal 30 Agustus sampai 12 September 2026 dimana pembelajaran dari rumah dan pembelajaran terbatas tergantung situasi di wilayah satuan Pendidikan masing-masing.

Kemudian tanggap darurat bencana gempa bumi diperpanjang lagi dari tanggal 13 sampai 19 September 2026, karena itu dalam surat edaran ketiga salah satu poin sudah diperbolehkan pembelajaran dilakukan secara tatap muka terbatas di tenda-tenda darurat.

“Jadi kita tegaskan dalam surat edaran ketiga ini bahwa aktifitas KBM tatap muka secara terbatas dan dilaksanakan di tenda-tenda darurat. Hal ini untuk memberikan kenyamanan dan keselamatan bagi guru dan siswa jika potensi gempa susulan, karena hingga saat ini gempa susulan masih terus terjadi. Memang ada gedung sekolah yang hanya rusak ringan maupun tidak ada kerusakan sama sekali tetapi kita tetap larang untuk aktifitas pembelajaran di dalam gedung karena takut jika terjadi goyangan gempa bukan penyebabnya ambruknya bangunan, tetapi terjadi korban karena saling bertabrakan karena berebutan keluar,”terangnya.

Belanja Terpal Rp 3 Miliar Dari BTT Rp 20 Miliar

Karena itu, Kata Marselinus, dalam rangka mendukung aktifitas KBM di tenda-tenda darurat, Pemda Manggarai Timur melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan sudah mengadakan dan mendistribusikan terpal-terpal untuk pembangunan tenda darurat di sekolah-sekolah baik TK/PAUD, SD, dan SMP.

Dengan rincian 33 TK/PAUD dengan masing-masing 4 lembar terpal, 333 SD dan 148 SMP diberikan bantuan terpal dengan masing-masing sekolah mendapat 8 lembar.

Dengan total sebanyak 3.980 lembar terpal dengan total dana sebesar Rp 3 miliar yang bersumber dari dana belanja tak terduga (BTT) senilai Rp 20 miliar bantuan presiden (Banpres) Prabowo Subianto.

Marselinus juga menyarankan bagi Sekolah-sekolah yang belum mendapatkan bantuan atau pun merasa kekurangan bisa mengadakan sendiri mengunakan dana BOSP di setiap satuan Pendidikan.

“Jadi kalau ada sekolah yang merasa kurang atau belum dapat bantuan bisa mengadakan sendiri dengan menggunakan dana BOSP,” ujar Marselinus.

Marselinus juga mengatakan, pihaknya juga telah menyurati BNPB agar tenda-tenda BNPB baik di posko pengungsian mandiri atau terpusat jika sudah tidak ada pengungsinya, maka ditarik ke sekolah-sekolah untuk mendukung pelaksanaan KBM.

Selain itu, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Manggarai Timur juga telah menjalin kerja sama dengan NGO yakni Save The Cildren dan CIS Timor dan berkoordinasi dengan Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (P2KBP3A) Kabupaten Manggarai Timur melatih 30 orang fasilitator terkait ilmu psiko sosial.

Fasilitator ini akan menyebar ke-12 Kecamatan untuk kemudian memediasi bersama perwakilan guru dari satuan Pendidikan masing-masing baik jenjang TK/PAUD, SD, dan SMP untuk kemudian mengimbaskannya terhadap sekolah masing-masing. Tujuan psiko sosial ini untuk menghilangkan trauma bagi para peserta didik dan juga guru.