www.peristiwaaktual.com.ǁNTT,13 Juli 2026-SMA Negeri 1 Bajawa, Kabupaten Ngada, menerima 432 siswa baru pada Tahun Ajaran 2026/2027.
Seluruh siswa tersebut telah mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) selama sepekan dan mulai mengikuti kegiatan belajar mengajar pada Senin (13/7/2026).
Wakil Kepala SMA Negeri 1 Bajawa Bidang Kesiswaan, Romanus Nggajo, S.Pd., mengatakan jumlah siswa baru yang diterima telah sesuai dengan kuota sekolah yang dibuka melalui empat jalur penerimaan, yakni zonasi, domisili, prestasi, dan afirmasi.
“SMAN 1 Bajawa merupakan satu-satunya sekolah di Kabupaten Ngada yang menerapkan jalur zonasi. Selain itu, kami juga menerima siswa melalui jalur domisili, prestasi, dan afirmasi. Tahun ini kami membuka 12 rombongan belajar dengan total 432 siswa baru sesuai kuota yang telah ditetapkan,” ujar Romanus saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (13/7/2026).
Romanus menjelaskan, selama pelaksanaan MPLS pihak sekolah berfokus pada pembentukan karakter peserta didik sesuai kebijakan terbaru Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Seluruh rangkaian kegiatan dilaksanakan tanpa praktik perpeloncoan maupun kekerasan.
“Pelaksanaan MPLS mengacu pada aturan terbaru Kemendikdasmen. Kami menghindari segala bentuk kekerasan dan lebih menitikberatkan pada pembentukan karakter siswa,” katanya.
Menurutnya, sejumlah materi menjadi penekanan selama MPLS, di antaranya gerakan jujur, Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, Pagi Ceria, etika bermedia sosial, budaya 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun), serta budaya hidup sehat.
“Ada beberapa hal yang menjadi penekanan, yaitu gerakan jujur, Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, Pagi Ceria, sopan santun dalam bermedia sosial, budaya 5S, dan budaya hidup sehat. Materi-materi ini sangat penting karena peserta didik masih berada pada usia remaja dan sedang membentuk karakter,” ujarnya.
Selain itu, sekolah juga menanamkan nilai kejujuran, disiplin, serta semangat berkompetisi secara sehat dalam meraih prestasi.
“Karakter yang kami bangun adalah kejujuran, disiplin, dan semangat bersaing untuk meraih prestasi secara sehat,” jelasnya.
Romanus mengakui penggunaan media sosial menjadi tantangan di dunia pendidikan. Menurutnya, kemajuan teknologi harus dimanfaatkan secara positif dengan tetap berada dalam pengawasan guru.
“Penggunaan media sosial memang menjadi tantangan. Di satu sisi kami membatasi penggunaan telepon genggam di sekolah, tetapi di sisi lain kami juga dituntut mengikuti perkembangan teknologi. Yang paling penting adalah bagaimana siswa menggunakan media sosial secara bijak. Di sekolah, penggunaan media sosial hanya diperbolehkan atas izin guru untuk kepentingan pembelajaran,” katanya.
Pada penutupan MPLS, pihak sekolah juga mengajak seluruh siswa baru membangun identitas sebagai bagian dari keluarga besar SMA Negeri 1 Bajawa.
“Saat penutupan MPLS kami berpesan agar seluruh siswa meninggalkan identitas sekolah asal masing-masing. Mulai sekarang fokuslah menjadi bagian dari keluarga besar SMAN 1 Bajawa dan bersama-sama mengukir prestasi,” tutup Romanus.

