Kekerasan Seksual di Sumba Timur Bukan Dipicu Rendahnya Pendidikan

www.peristiwaaktual.com.ǁNTT,1 Juni  2026-Aktivis kemanusiaan, Rambu Dai Mami menegaskan bahwa, rendahnya tingkat pendidikan bukan lagi menjadi salah satu faktor meningkatnya kasus kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak di Sumba Timur.

Direktur Yayasan Sabana Sumba itu mengatakan, dalam beberapa tahun terakhir dirinya bersama tim menerima laporan dan mendampingi korban kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur.

Ia mengatakan, para pelaku berasal dari berbagai latar belakang. Ada tenaga kependidikan, guru, dan yang terbaru ada dugaan dosen di kampus Unkriswina Sumba yang melecehkan mahasiswinya. Saat ini kasus tersebut sedang diselidiki oleh Satgas PPKPT kampus tersebut.

“Selama ini, kalau ada berita kekerasan seksual, orang selalu bilang karena tidak berpendidikan. Sekarang pelakunya adalah pendidik, dan beberapa kasus lainnya belum terungkap. Ini artinya bukan faktor pendidikan,” kata dia, Senin (1/6/2026).

Ia menegaskan, kekerasan seksual adalah persoalan perilaku, bukan soal tingkat pendidikan seseorang.

Rambu juga menyoroti perilaku netizen di media sosial. Menurut dia, ketika pelaku merupakan orang yang berpendidikan, mereka cenderung dibela dan bahkan diberi penguatan.

Di sisi lain, hal itu justru menambah luka bagi korban kekerasan seksual.

Ia menyebutkan, tidak sedikit netizen memberikan komentar terkait kekerasan seksual yang dialami korban seperti “atas dasar suka sama suka”, “kenapa diam dan tidak berteriak” dan “kan tinggal tinggal urus adat kalau sudah terjadi”.

“Diharapkan semua pihak bekerja sama menyelesaikan persoalan ini. Bukan malah memberikan penguatan kepada pelaku, dan menambah luka bagi korban. Itu yang terjadi di media sosial terkesan menormalisasi kekerasan yang terjadi,” ungkapnya.

Ia berharap, Pemerintah Kabupaten Sumba Timur, Polres Sumba Timur, tokoh agama, dan tokoh masyarakat lebih meningkatkan perhatian terhadap kasus kekerasan seksual.

Pentingnya Beradat

Anggota Sabana Sumba, Rambu Ana Intan, menyampaikan keprihatinannya atas maraknya kasus kekerasan seksual yang dialami generasi muda di Sumba Timur.

“Memprihatinkan,” ujarnya.

Ia menyesalkan para pendidik yang telah menempuh pendidikan tinggi, yang semestinya mengajarkan nilai-nilai baik, justru terlibat dalam tindakan yang merusak masa depan generasi muda.

Rambu Ana Intan, yang juga bagian dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Sumba Timur, mengaku khawatir dunia pendidikan tidak lagi menjadi ruang yang aman untuk belajar apabila peristiwa serupa terus terjadi.

“Ini yang membuat masyarakat adat yang ada di pelosok takut untuk bersekolah tinggi lagi,” ungkapnya.

Menurut dia, perilaku kekerasan tersebut tidak terlepas dari sikap yang tidak menghormati serta tidak mewarisi nilai-nilai adat dan budaya. Karena tidak beradat, mereka cenderung tidak beradab.

“Mereka lebih tepatnya tidak beradab, karena mereka tidak beradat,” ujar dia menganalisis.

Sebagai perempuan adat, ia berharap persoalan ini segera diselesaikan. Ia tidak ingin kasus serupa kembali terjadi di mana pun.

“Saya berharap semua pihak terlibat, bukan hanya pemerintah, aktivis dan polisi, tetapi juga masyarakat dan semua orang di Sumba. Ini sudah mendesak. Ini bukan satu permasalahan kecil. Jangan sampai ruang aman jadi tidak aman lagi,” jelasnya.